. . . jadikan hati nurani kita sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan dan jaga kejernihan hati agar rohmat ALLOH selalu mengalir dalam diri kita . . .

Senin, 25 April 2011

[Hana]: Dengarkan Hati…



….
Aku mencintai lautan dan ingin berlayar kemanapun
Aku tahu suatu saat ia akan surut dan aku akan terpecah gelombang
Saat itu aku telah penuh, jiwaku telah sesak.
Bintang-bintang akan mengiringiku dengan kebesaran hati
dan kesabaran menujumu,
ke tempat kau berdiri menanti merentangkan tangan
lalu membasuh keringatku.
….
“Hana?” terdengar seruan heran dari balik pintu rumah itu sebelum terdengar pula  suara anak kunci yang diputar tergesa. Ketika pintu itu terbuka, keheranan lebih jelas tergambar di wajah Bram.
“Hana?” seru Bram seperti tidak percaya.


“Ya,” jawab Hana sambil menjatuhkan tas yang dijinjingnya ke lantai. Matanya memandang lekat ke mata Bram, mencoba mencari sesuatu di sana, tapi entah apa dia pun tak mengerti.
“Ada maksud apa kau datang sepagi ini?” tanya Bram kikuk.
“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri.”
“Hmm..meyakinkan dirimu sendiri tentang?”
“Kau tak perlu tahu,” jawab Hana sambil meraih lagi tasnya ke dalam tangannya. “Apakah kau mau menampungku untuk malam ini?”. Dahi Bram berkerut, namun itu hanya sebentar. Setelah itu, terbitlah terang di air mukanya dengan imbuhan senyum lebar yang nakal.
”Masuklah!” Bram membuka pintu makin lebar.
Beberapa menit kemudian, Bram dan Hana telah duduk berdua di atas sofa besar ruang tamu Bram.  Harus Hana akui rumah Bram sangat nyaman, tidak kalah dengan rumahnya dan Bintoro, suaminya.
“Bagaimana kabar Bintoro?” tanya Bram setelah lama memandangi Hana yang kelihatan masih sibuk mengamati isi rumahnya tanpa memperdulikan dirinya, si pemilik rumah.
“Baik,” jawab Hana acuh, walaupun sebenarnya hatinya tergetar mendengar nama itu. Dia sempat terdiam beberapa saat untuk menghalau perasaan yang menghampiri. Sungguh ia merasa bersalah telah mendatangi tempat ini untuk menjumpai Bram. Tapi, dia hanya ingin meyakinkan dirinya akan sesuatu.
“Bagaimana kau bisa sampai kemari?” tanya Bram lagi. Dia merasa ada keanehan pada diri Hana. Aneh karena seorang perempuan bersuami seperti Hana masih mau mencari dirinya, lelaki yang telah menyakiti hati Hana dan mencoreng arang pada kehormatan keluarganya.
“Pagar rumahmu tidak kau kunci,” jawab Hana sekenanya.
“Aduh, bukan itu.  Maksudku, apa tujuanmu kemari?”
“Seperti yang aku bilang tadi, Bram. Aku ingin meyakinkan diriku sendiri.” Bram terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Dan pikiran pertama yang singgah di kepalanya langsung  diungkapkannya dengan ekspresi yang nakal.
“Kau lari dari Bintoro, ya?”
“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”
“Bagaimana tidak?” Bram kembali bertanya.
“Seorang perempuan bersuami, sepagi ini muncul tiba-tiba di depan pintu rumah bekas pacarnya, membawa tas besar dan berniat untuk menginap. Apa lagi kalau bukan sedang mencoba berlari dari suaminya? Tapi jujurlah, kenapa kau memilih untuk lari ke rumahku? Apa sejak dulu kau memang tidak pernah bisa melupakan aku? Haha…Bram, Bram…nasibmu baik sekali, kucing yang hilang sekarang kembali.”  Hana hanya diam mendengarkan ocehan Bram. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
“Silakan saja kau dengan pikiran kotormu itu,” ujar Hana. Bram tertawa.
“Aku yakin kau masih mencintai aku, Hana. Eh, suamimu tidak akan mencarimu kemari, kan? Kalau dia menanyaiku, aku harus bilang apa? Ya, ya…dia 300 kilo jauhnya dari sini, tapi bukan berarti dia tidak akan menyusul istri tercinta. Lalu jika dia tidak datang, ayahmu pasti…”
“Ayahku meninggal dua minggu yang lalu.” Potong Hana kemudian. Bram terkejut. Senyum nakalnya menghilang.
“Uh, maaf, aku tidak tahu,” gumam Bram.
“Tidak apa-apa. Justru dengan kepergian ayah aku merasa bebanku menguap,” kata Hana. Tapi sedetik kemudian dia menjadi ragu, benarkah setelah ayahnya tiada ia tak memiliki beban lagi? Beban apa, diapun tak mengerti. Dosanyakah?
***
Dua tahun lalu, ayah Hana memperkenalkan Bintoro pada Hana. Waktu itu Bram telah mencampakkan Hana untuk perempuan lain. Seorang pemain cinta serupa Bram begitu mudah beralih ke perempuan lain setelah mendapatkan segala yang diinginkannya. Meninggalkan Hana dan hatinya yang remuk, serupa jatuh dari ketinggian dan tercebur ke dalam lumpur kehinaan.
Sebenarnya Bintoro muncul di saat yang tepat untuk Hana. Namun hati Hana terlampau tinggi untuk diraih dan sulit terbuka untuk menerima kehadiran orang lain. Ditambah lagi luka hati yang merasa dirinya telah tercoreng nista, serta perasaan berdosa pada keluarganya.
“Jangan nyatakan cinta, Bi. Bukankah kau tahu aku belum bisa melupakan Bram beserta cinta dan rasa sakit yang ditinggalkannya,” kata Hana waktu itu, ketika Bintoro kembali mengutarakan cintanya. Malam sebelum Hana memutuskan menemui Bram.
“Kelak kau akan mencintaiku,” kata Bintoro dengan yakin. Senyumnya yang jenaka, mengembang cerah seperti matahari terbit di mata Hana. Tapi, Hana hanya membalasnya dengan senyum dingin dan sinis.
“Kau kenal Bram, bukan?”
“Tentu saja.”
“Dan kaupun tahu sudah berapa perempuan yang ditidurinya?” tanya Hana nekat.
“Selain kau, rasanya aku tidak tahu yang lainnya lagi.”
“Bi!” jerit Hana. Hampir saja dia menangis karena merasa tersinggung dengan jawaban Bintoro yang sangat enteng itu. Satu hal yang dicatatnya, dengan Bintoro entah kenapa dia sangat mudah menangis.
“Apa masalahnya jika Bram suka tidur dengan banyak perempuan? Akupun tidak kalah sering. Akupun pernah tidur dengan ibuku, nenekku…”
“Bi!” jerit Hana lagi. Air matanya sudah mengambang, tinggal menunggu terlepas dari pelupuk matanya namun tenggorokannya tercekat karena hatinya tertawa mendengar kata-kata Bintoro. Ya, Hana menangis sambil tertawa. Catatan kedua baginya, entah kenapa pula dengan Bintoro dia sangat mudah tertawa.
“Tapi kau tidak sampai menghamili ibu dan nenekmu!” katanya ketus. Hana kemudian membalikkan badannya untuk menyembunyikan perasaannya. Bintoro hanya tersenyum.
“Jadi karenanya kau merasa tidak pantas dicintai?”
“Tolonglah..tidak usah nyatakan cinta.”
”Baiklah, aku mengerti.” Bintoro menghela nafas.
“Betapa jahatnya diriku,” batin Hana. Namun, ia pun tak mengerti. Tidak ada yang salah dengan Bintoro. Dia sebaik-baiknya lelaki yang bisa dijumpai di bumi. Setelah menjadi suaminya pun, dia adalah sebaik-baiknya suami yang bisa dijumpai di bumi. Tapi kenapa hatinya selalu menolak untuk menerima kenyataan itu? Benarkah karena rasa cintanya kepada Bram, ataukah karena dia merasa tidak pantas untuk Bintoro?
Kenyataan bahwa Hana sangat mencintai Bram sebelum kemudian dicampakkan dengan menyakitkan, sungguh sangat menghantui hatinya dan secara langsung juga berpengaruh pada kehidupannya setelah itu.
“Jawab dengan jujur, kenapa kau mau menikahi aku, Bi? Apa karena ayah dan kasihan padaku?” Bintoro tidak segera menjawab. Matanya menatap Hana lekat-lekat.
“Karena aku mencintaimu,” jawabnya kemudian.
“Tolong, jangan bilang cinta.”
“Dengar, Hana…kita sudah sering membicarakan ini. Tidakkah seharusnya…”
“Jawab aku, Bi!”
“Ah, aku harus jawab apa lagi?”
“Kau mau menikahi aku karena kau kasihan padaku dan kau merasa berhutang budi kepada ayah!” terlepaslah emosi Hana, walaupun kata-katanya yang keras itu sungguh tidak mencerminkan hatinya. Kesedihan karena kematian ayahnya mengaktifkan kembali sel-sel keangkuhan di otaknya. Bibirnya tersenyum sinis. Pertahanan dirinya otomatis muncul.
“Aku ragu dengan ketulusanmu. Memangnya ada di dunia ini lelaki ajaib seperti apa yang kau perankan selama ini? Tidak ada! Kau hanya berpura-pura. Ayah pernah menanam budi padamu dan kau membalasnya dengan menikahiku agar wajah ayah yang tercoreng karena perbuatanku bisa kembali bersih. Setelah ayah meninggal, kau sudah tidak ada kewajiban apapun lagi. Ayo, tinggalkan saja aku! Aku toh tidak pernah mencintaimu!”
“Hana…” bisik Bintoro mencoba meraih tangan Hana. Hana  menepisnya.
“Tidak usah membujukku!” teriaknya.
“Apa sebenarnya maumu, Hana?”
“Kau belum jawab pertanyaanku, Bi…ayo, jangan sampai kau pura-pura lupa untuk menjawabnya.”
“Aku sudah menjawabnya..aku cinta kamu. Itu alasannya.”
“Bohong! Apa benar-benar tidak ada kekhawatiran di hatimu sedikitpun tentang masa laluku?” Hana berbicara seperti mendesis. “Kau tahu kan perasaan cintaku yang sebenarnya kepada siapa.”
“Sudahlah, Hana…”
“Kau tidak khawatir jika aku tidak akan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengandung seorang anak lagi karena…karena kepercayaan Tuhan yang pernah kudapat walaupun dengan cara yang…kotor…dan berdosa sudah kusia-siakan dengan cara yang paling kotor dan berdosa pula? Kau tidak khawatir jika suatu waktu aku..aku..akan berlari..kembali kepada Bram?” kata-kata Hana meluncur terbata-bata melalui bibirnya yang gemetar. Tatapan matanya sayu dan air mata berjatuhan membentuk sungai-sungai kecil di pipinya.
“Hana…” Bintoro meraih dan memeluk Hana. Dalam pelukan yang hangat dan nyaman itu, Hana melemaskan badannya. Hana merasakan getaran cinta yang tulus dari Bintoro, tetapi hatinya menolak untuk mengakuinya. Perempuan kotor dan berdosa seperti dia tidak mungkin seberuntung ini mendapatkan cinta dari seorang lelaki seperti Bintoro, walaupun pada kenyataannya kini Bintoro adalah suaminya.
Guncangan atas kematian ayahnya benar-benar memporandakan ketegaran yang telah dibangun oleh Hana selama ini. Kebahagiaannya, rasa cintanya pada Bintoro, serta rasa cinta dan sakitnya pada Bram  membuatnya kalut. Dan kini dia di sini, di rumah Bram, mencoba meyakinkan dirinya sendiri akan cintanya. Pada titik inilah sebenarnya dia telah bisa merasakan hatinya. Dia heran dengan perasaannya sendiri saat pertama bertemu kembali dengan Bram tadi pagi. Sungguh perasaan itu tidak seperti yang selalu dipikirkannya selama ini. Tidak ada perasaan apa-apa lagi saat Bram membukakan pintu untuknya; cinta atau dendam sakit hatinya tidak menemui pelampiasan. Yang ada hanya kering, seperti sebuah babak yang biasa dalam kehidupannya sehari-hari. Yang ada justru bayangan Bintoro yang lebih banyak bermain di pikirannya.
Ah, aku telah menyakiti Bintoro, menyakitinya dengan sangat parah” Hana berbicara pada dirinya sendiri. Kini, dia sungguh yakin akan cinta Bintoro. Ketulusan dan kemurnian cinta Bintoro seolah-olah diwakili oleh keseluruhan getar pada panca inderanya. Sesuatu yang ditolak oleh Hana dengan membabi buta karena dia merasa kecil dan tak berarti buat Bintoro. Selama ini dia hanya memenangkan sisi keangkuhannya saja. Perasaan tidak ingin dikasihani, yang dialihkannya dengan dalih bahwa cintanya tidak akan berubah untuk seorang yang justru telah menyakitinya, hingga dia sendiri sudah tidak bisa lagi merasakan bagaimana rasa sakit itu. Hana merasa bodoh dengan mencoba mencari keyakinan itu di sini, di rumah Bram. Sebab sesungguhnya keyakinan itu sendiri ada di hatinya. Ada di hati Bintoro, jika dia mau mencarinya di sana.
“Hana, kau bodoh sekali,” desisnya. Sedikit senyuman terlihat di bibirnya.
***
Sepulang dari kantor, Bram memasuki halaman rumahnya dengan raut heran, serupa ekspresinya pagi tadi. Kini, ia melihat Hana berdiri di teras rumahnya dengan tas yang sama.
“Eh? ” komentar pertama yang keluar dari mulut Bram.
“Sudah kutemukan,” sambut Hana dengan senyum yang manis sekali.
“Oya?” dahi Bram berkerut,” Kau menemukan apa?”
“Yang aku cari.”
“Oh…”
Bram menjatuhkan pantatnya di kursi teras itu dengan malas. Kepalanya tengadah memandang ke langit-langit dan tubuhnya direntangkan sedemikian rupa.
“Tidak jadi menginap?” tanyanya.
“Tidak.”
“Sial…padahal aku pikir aku mendapatkan ikan segar malam ini.”
“Diam, kau!” bentak Hana lirih, tapi mulutnya tersenyum, “Pikiranmu masih saja kotor seperti dulu.”. Bram terkekeh.
“Kenapa kau bisa menemukannya di sini?”
“Mudah saja, rumahmu memberi banyak inspirasi.”
“Oh…,” Bram mengangguk-angguk.  “Akupun entah kenapa seharian ini berpikir tentang perkawinan,” sambunya kemudian.
“Oya?” tanya Hana tertarik, “maksudmu kau ingin menikah?” Hana mengambil tempat di sebelah Bram.
“Ya…sepertinya,” jawab Bram ragu-ragu.
“Siapa kira-kira perempuan yang menderita itu?”
“Itulah…”
Mereka kemudian tertawa bersama.
Hana merasakan keganjilan yang amat besar di dirinya. Dua tahun yang lalu dia adalah perempuan yang masih belum bisa berkompromi kenangan buruk bersama lelaki di sampingnya ini, tapi kini semua itu tak ada lagi. Bukan cinta atau rasa sakit hatinya  kepada Bram yang membuatnya merasa tidak mampu mencintai Bintoro, tapi rasa rendah dirinyalah yang menutupi perasaan hatinya sehingga mengabaikan rasa cinta yang tulus dari Bintoro. Dia sudah yakin akan dirinya kini. Dia akan pulang dan menebus segala yang telah dilakukannya terhadap Bintoro dengan harga yang wajar sebisa yang dia mampu, mengakui cintanya beribu-ribu kali lipat.
Sungguh, kini dia kangen sekali pada Bintoro.
****
Dini hari, Hana tiba di rumahnya. Di kamar, dilihatnya Bintoro tertidur memunggunginya. Dilepasnya sepatunya, menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang. Gerakan halus dari Bintoro membuat Hana mengerti bahwa suaminya itu telah terbangun.
“Jangan berbalik,” bisiknya. “Aku ingin seperti ini untuk beberapa saat.”
Terasa kemudian Bintoro hanya menggerakkan bahunya sedikit untuk memperbaiki posisi tidurnya.
“Sudah puas berlari?” tanya Bintoro kemudian. Lembut tanpa terasa menyindir. Matanya masih terpejam, tapi dari bibirnya tersungging senyuman kelegaan. Sejenak kemudian dirasakannya pelukan Hana bertambah erat.
“Belum..aku masih terus ingin berlari, Bi. Karena dengan berlari aku akan semakin mengenal cintaku sendiri.”
“Dasar perempuan..jadi apa yang harus kulakukan? Mengejarmu?”
“Tidak..kau diamlah saja di tempatmu, Bi. Dengan diam kaupun meyakinkanku akan diriku,” bisiknya di telinga Bi dengan getar penuh keharuan.
“Kau sakit?” Bintoro bertanya khawatir. Badannya siap berbalik untuk berhadapan dengan istrinya, tapi Hana menahannya dengan makin merapatkan pelukan dan menyembunyikan kepalanya di punggung Bintoro.
“Aku serius, kalau kau sakit malam ini juga kita…”
“Ssh…diamlah,” Hana mengangkat wajahnya memandang suminya yang juga tengah memandangnya pula dari balik bahunya. Bintoro melihat senyum bahagia di wajah istrinya, pun mata itu sarat dengan perasaan bahagia yang meluap. Bintoro menjatuhkan lagi kepalanya dan Hana makin erat memeluknya.
“Bi…”
“Emm..?”
“Aku cinta kau…”
“Iya…”
“Iya apa?”
“Iya, aku sudah tahu.”
“Tahu dari mana?”
“Iklan di tivi.” Jawaban yang disusul dengan pekik lirih dari Bintoro karena Hana langsung mencubit perutnya. Mereka tertawa.
“Bi…”
“Emm…?”
“Maafkan aku…”
“Sudah dimaafkan.”
“Aku sering membuatmu susah.”
“Sudah tidak susah lagi.”
“Sering membuatmu bingung.”
“Sudah tidak bingung lagi.”
Hana tersenyum bahagia.
“Bi…”
“Emm…?”
“Maafkan aku karena selalu menyusahkanmu, membingungkanmu, membuatmu kacau, meninggalkanmu, menyangkal perasaanku, berkata kasar padamu, melakukan hal yang tidak pantas kepadamu, membuatmu sedih…”
“Sssh…diamlah!”
===================================
.
.
>> Keyakinan itu ada di hati kita sendiri, bertanyalah padanya…


sumber; http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/02/06/hana-dengarkan-hati/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar