. . . jadikan hati nurani kita sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan dan jaga kejernihan hati agar rohmat ALLOH selalu mengalir dalam diri kita . . .

Sabtu, 26 Februari 2011

Suara Hati Lily dan Effendy (anggota F-PKB)

    Ada yang berbeda saat sidang paripurna pengambilan keputusan usulan pembentukan panitia khusus hak angket mafia pajak, Selasa (22/2/2011) silam. Ketika mayoritas anggota DPR tunduk dan bulat mendukung keputusan partai, ada dua anggota yang justru memilih berseberangan dengan kehendak partainya. Adalah Effendy Choirie dan Lily Chadijah Wahid, dua anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, yang berani bersikap berbeda.


Keduanya berdiri pada saat mayoritas anggota F-PKB memilih untuk tetap duduk. Saat itu pemimpin sidang paripurna, Marzuki Alie, meminta anggota F-PKB yang mendukung usul hak angket untuk berdiri, sementara yang menolak diminta tetap duduk. Saat itu keduanya langsung mendapat ucapan selamat dari rekan-rekannya dari Fraksi Partai Golkar, seperti Agun Gunanjar dan Bambang Soesatyo, yang juga mendukung hak angket.

Keputusan Lily dan Gus Coi (panggilan Effendy Choirie) mendukung angket mafia pajak tergolong berani. Mereka melawan keputusan partai, yang bagi anggota parlemen seperti ”sabda Tuhan”. Tidak ada yang mau melawan karena taruhannya adalah kursi di parlemen.

Namun, itu bukan kali pertama Lily membangkang keputusan partai. Perlawanan pernah dia tunjukkan pada saat pengambilan keputusan pansus hak angket Century. Ia memilih opsi C (ada kesalahan dalam bail out Bank Century) pada saat seluruh anggota F-PKB memilih opsi A (tidak ada kesalahan).

Lily tak khawatir akan di-recall pimpinan partai. Adik mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu memegang prinsip, ia berada di parlemen karena dipilih langsung oleh rakyat sehingga harus mempertanggungjawabkan sikap dan pilihannya kepada rakyat. Ia akan tunduk kepada partai sepanjang keputusan yang diambil sesuai dengan aspirasi rakyat.

Bagi Gus Coi, itu pengalaman pertama bersikap berbeda dengan partainya. Sebelumnya, ia absen menghadiri paripurna pansus angket Century karena menghormati keputusan partai yang sebenarnya tak sesuai hati nuraninya.

Selama ini Gus Coi merasa terpasung oleh sikap partainya yang selalu mengekor penguasa. ”Saya menangis hanya karena harus bertoleransi mengikuti sikap PKB,” katanya.

Meski terus mendapat teguran dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, ia justru merasa gembira karena bersikap sesuai dengan hati nurani. Baik Lily maupun Gus Coi tahu betul risiko pilihan mereka. Tetapi, mereka senang karena sudah memenuhi keinginan rakyat. (ANITA YOSSIHARA)

sumber http://nasional.kompas.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar